GUNUNG KIDUL, KOMPAS – Atas inisiatif sendiri, pemuda karang taruna di Desa Nglanggeran, Patuk, Gunung Kidul, mulai mendata fauna dan flora langka di gunung api purba Nglanggeran. Warga sempat menyelamatkan dua ekor anakan macan cecep yang akan dijual penemunya.
Namun, macan cecep itu mati setelah lima hari dalam perawatan. Selain menemukan anakan macan cecep, pemuda karang taruna sempat menjumpai kotoran macan kumbang. Gunung Nglanggeran juga diyakini pernah menjadi habitat harimau jawa sebelum akhirnya punah. “Banyak goa yang belum bisa kami jelajahi karena keterbatasan alat,” kata pemuda karang taruna, Triyanto, Selasa (1/6).
Anakan macan cecep yang sempat akan dijual itu masih sangat muda. Hingga kini, warga belum menemukan indukan macan yang terancam punah itu. Sejauh ini, pemuda karang taruna Desa Nglanggeran telah mendata beberapa jenis fauna lain seperti landak, luwak, elang gunung, ular, dan burung sriti.
Ketua Karang Taruna Bukit Putra Mandiri Nglanggeran Sugeng Handoko mengatakan, pendataan fauna dan flora di Gunung Nglanggeran akan terus berlanjut setelah dilakukan selama tiga bulan terakhir. Melalui pendataan itu, menurut Sugeng, diharapkan warga bisa menyadari kekayaan alam yang dimiliki sehingga menumbuhkan kesadaran untuk menjaga kelestariannya.
Pada awal Juni ini, mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta akan turut terlibat dalam pendataan flora Gunung Nglanggeran. Beberapa flora langka seperti cendana liar dan pohon pakis bisa ditemui di Gunung Nglanggeran.
Menurut Sugeng, masyarakat kerap memperjualbelikan satwa dan flora langka untuk pemenuhan kebutuhan hidup. Dua anakan macan cecep, misalnya, hanya dijual Rp 80.000.
Gunung Nglanggeran menjadi habitat cocok bagi satwa dan flora langka karena memiliki lebih dari 28 mata air. Gunung yang saat ini mulai banyak dikunjungi wisatawan itu pernah aktif sekitar 70 juta tahun lalu. (WKM)
Sumber : http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/06/02/15045897/fauna.langka.di.gunung.purba.nglanggeran
Komentar Terakhir